09.00 - 09.05 GMT + 7

Warta Berita

Untitled Document


 

Share/Save/Bookmark

Ikan Terkecil Di Indonesia

Tuesday, 31 January 2012 09:34 ike/fold
PrintPDF
alt

Indonesia adalah surga keanekaragaman hayati. Negara kepulauan ini menyimpan berbagai fauna unik yang berharga bagi dunia penelitian. Salah satunya adalah ikan rawa bernama latin Paedocypris progenetica. Paedo berarti anak-anak.

 

Cypris menunjukkan ikan itu merupakan bagian famili gurame, sedangkan progenetica merujuk pada karakteristiknya seperti larva. Saat dewasa, ikan ini berukuran hanya 7 koma 9 hingga 10 koma 3 milimeter.

 

Penemuan Paedocypris progenetica dilaporkan pada tahun 2005 oleh ahli ikan berkebangsaan Swiss, Maurice Kottelat, dan Tan Heok Hui yang sama-sama bekerja untuk Raffles Museum of Biodiversity Research, Singapura. Bersama rekan-rekan dari Indonesia dan Max Planck Institute, Jerman, mereka kemudian menganalisis kerangka dan struktur kompleks sirip belakang binatang ini.

 

Dilihat sepintas lalu, ikan ini tampak seperti larva yang berenang di air. Ukuran yang amat pipih membuat tengkorak binatang ini berkurang banyak. Akibatnya, otak ikan tak terlindung oleh tulang.

 

Hidup di rawa gambut membuat binatang ini harus bertahan di lingkungan dengan tingkat keasaman yang tinggi. Air hitam di sekitar lahan gambut umumnya memiliki pH sebesar 3 atau 100 kali lebih asam dibanding air hujan.

 

Ikan itu diyakini mampu bertahan hidup selama dua tahun dan kemungkinan banyak menghuni beberapa kawasan di Sumatera dan Sarawak. Ikan betina hanya memproduksi satu telur amatang pada satu waktu.

 

Hingga awal tahun 2012, ikan yang biasa hidup di rawa di sekitar lahan gambut Sumatera ini tercatat sebagai binatang bertulang punggung paling kecil yang pernah ditemukan. Kini ikan kecil ini harus menyerahkan gelar vertebrata terkecil kepada Paedophryne amauensis dari Papua Nugini.

 

Kottelat, sang penemu ikan, tak langsung setuju dengan pengambilalihan gelar ini. Menurut dia, sulit membandingkan ukuran ikan dengan katak. Pada ikan, panjang tubuh dihitung dari puncak hidung hingga ujung ekor.

 

Sedangkan pada katak, pengukuran panjang dilakukan dari ujung hidung hingga lubang pembuangan. Menurut Kottelat, yang terpenting saat ini adalah mengenai keberlangsungan spesies unik di habitat asli mereka. Ikan terkecil dari Indonesia, misalnya, kini harus terdesak akibat rusaknya rawa gambut.Brg-Ike(27/1/12)ww

 

 

 

VOI Twitter Updates

voi indonesia
 
voi indonesia English Program on VOI. Network Program in English VOI-RRI Denpasar 17:00 WIB/10:00 UTC and VOI-RRI Banjarmasin... http://t.co/Ua7v80QI
About 16 hours ago
voi indonesia
 
voi indonesia Portuguese President visit Jakarta to meet President Susilo Bambang Yudhoyono
About 16 hours ago
voi indonesia
 
voi indonesia English program now on Voice of Indonesia: http://t.co/iDvPFRuB. Network Program with RRI Denpasar 17:00 WIB with RRI Banjarmasin 20:00 WIB
About 16 hours ago

My Friends:

sapri yadi oktofano djafri lusi capriny duma riris silalahi Mikha Tambayong Novita Agustina Raisa Andriana FENDY YOHAN Muhamad Chaerul Adha WALHI
Follow voiindonesia on Twitter

Tentang Kami

Beriklan Bersama Kamai

Peraturan Penggunaan

Privacy and Cookies

copyright

Share/Save/Bookmark