
Bagi anda pencinta makanan pedas, kecamatan Cibiuk di kabupaten Garut, provinsi Jawa Barat merupakan salah satu lokasi wisata kuliner yang tepat untuk memuaskan hasrat anda terhadap sambal, karena kecamatan tersebut memiliki kuliner pedas bernama Sambal Cibiuk.
Dibandingkan jenis sambal yang lainnya, Sambal Cibiuk memiliki keunikan tersendiri karena rasa pedas yang dihasilkannya, tidak akan meninggalkan rasa panas baik di mulut maupun di perut..
Sambal cibiuk merupakan sambal yang berwarna hijau dengan bahan-bahan, seperti cabai, bawang merah, kencur, garam, tomat muda yang masih berwarna hijau, dan dedaunan yang memiliki cita rasa khas seperti daun pohpohan, sejenis daun untuk lalapan dan daun kemangi; serta terasi. Cabai yang digunakan adalah cabe hijau dan cabai rawit.
Rasanya sangatlah pedas dan juga segar. Rasa pedas dalam Sambal Cibiuk tercipta dari cabe rawit pilihan, karena cabai rawit yang digunakan adalah cabai rawit berukuran besar atau yang sering disebut cengek domba oleh masyarakat Sunda, mayoritas penduduk provinsi Jawa Barat.
Selain tidak meninggalkan rasa panas di mulut dan perut, perbedaan lain Sambal khas Garut ini dibandingkan jenis sambal lainnya juga terletak pada tampilannya. Sambal pada umumnya tampak halus karena memang dalam pengolahannya diulek sampai halus, sedangkan sambal Cibiuk diulek kasar, dimana potongan tomat mengkal dan daun kemangi masih terlihat, sehingga sambal tampak seperti lalapan.
Kuliner yang dikenal pedas ini sangatlah nikmat jika dicicipi bersama dengan sepiring nasi panas dengan berbagai lauk, seperti gurame goring, gurame bakar, ayam bakar atau ayam goreng. Jika tertarik mencicipi sambal Cibiuk ini, berkunjungklah ke Kecamatan Cibiuk, di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Di sana terdapat berbagai rumah makan yang menjual sambal ini dengan berbagai lauk pauk lainnya.
Nama kuliner bercita rasa pedas ini, yakni Cibiuk, diambil dari nama Kecamatan Cibiuk yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tempat sambal ini pertama kali dibuat. Konon, resep sambal ini diciptakan oleh Nyimas Ayu Fatimah, putri Syeh Fajar Sidik, penyebar dan pengajar Islam di utara Garut pada abad ke-18.
Kemampuan Nyimas Ayu Fatimah dalam menciptakan dan mengolah kuliner diperoleh dari ayahnya sendiri, karena dahulu selain terus menyebarkan ajaran Islam, Syeh Fajar Sidik juga tak henti-hentinya mengembangkan ilmu dan kemajuan ekonomi masyarakat, termasuk juga keahlian dalam mengolah kuliner. Theo-Ike(20/1/12)
![]()